Tentang Sejarah berdirinya Desa Kemenuh dapat diketahui dari suatu sumber pustaka (lontar) yang secara keseluruhan memuat tentang BABAD BRAHMANA KEMENUH.
Dalam kaitannya dengan Desa Kemenuh, kutipan dari naskah aslinya antara lain menyatakan bahwa: “Wekasnya pwa ya Desa Wanasari ika, maka ngaran Wanasari Kemenuh, apan Ida Kemenuh makarya Pura Dalem Kemenuh makadinnya Sira Bhatari Adiswari Yogi Sinungsung, kakaryanang pangastanannira meru tumpang tiga, lumingga ring Dalem Kemenuh. Mangkaneng katatwanyeng kune, mulaning nganame Desa Kemenuh. Yadyapi katka, kunang kotanya Desai ka kangawiwasa kumenuhe – Blahbatuh, kakuhubana oleh Sukawati”
Artinya :
“akhirnya Desa Wanasari disebut bernama Wanasari Kemenuh, karena Ida Kemenuh mendirikan Pura dalem Kemenuh; lagi pula beliau Bhatari Adi Swari Sinungsung dibuatkan setana pemuliaan berupa sebuah meru bersusun Tiga( Meru Tumpang Tiga) yang berkedudukan di Pura Dalem Kemenuh. Demikianlah sesungguhnya pada zaman dahulu, asal mulanya bernama Desa Kemenuh hingga sekarang. Adapun wilayahnya adalah kekuasaan Blahbatuh, Daerah Sukawati.
Dari kutipan naskah diatas dapat diketahui bahwa, sebelum bernama Desa Kemenuh, desa ini telah ada disebut dengan nama Desa Tegal Wanasari. Adanya perubahan nama menjadi Wanasari Kemenuh pada masa lampau erat kaitannya dengan kisah perjalanan Dhang Hyang Dwijendra menuju ke Puri Gelgel untuk memenuhi undangan Raja Gelgel. Dalam perjalanan beliau dikisahkan bahwa:
“Setelah Dhang Hyang Dwijendra tiba di desa Gading Wani dalam perjalanan ke Puri Gelgel, warga Desa Gading Wani memohon salah seorang Putranya untuk diangkat menjadi Siwa di Desa Gading Wani. Namun permohonan tersebut tidak dapat beliau penuhi. Dengan diiringi oleh Putra – Putrinya Dhang Hyang Dwijendra kemudian melanjutkan perjalanan beliau menuju Puri Gelgel. Ketika melewati Hutan Pegametan, seorang Putri Beliau yang bernama Ida Ayu Swabawa hilang secara gaib diambil oleh Shang Hyang Mahadewa, Dewa di Gunung Agung. Maka dengan sangat sedih Dhang Hyang Dwijendra kembali lagi ke Desa Gading Wani disertai oleh Putra lainnya.
Warga Desa Gading Wani merasa amat senang karena permohonannya dipenuhi. Seorang Putranya bernama Ida Kumenuh didiksa, dan Warga Desa Gading Wani membangun sebuah Griya( Rumah Pendeta). Setelah memperoleh gelar kependetaan, Ida Kumenuh bernama Mpu Rambut/Romo Sinungsung dan Istrinya bernama Patni Yogi Sinungsung. Beberapa hari sesudah upacara pediksan Putranya selesai, Dhang Hyang Dwijendra bergegas meninggalkan Desa Gading Wani mengulangi perjalanannya menuju ke Desa/Puri Gelgel. Ida Kumenuh/Mpu Romo Sinungsung yang tinggal di Desa Gading Wani mempunyai 4 orang Putra. Semuanya merasa amat sedih karena terlalu lama ditinggal oleh Dhang Hyang Dwijendra. Akhirnya Mpu Romo Sinungsung menyusul perjalanan Dhang Hyang Dwijendra diiringi oleh 2 orang Putra Beliau serta beberapa pengikut dari Desa Gading Wani. Sedangkan Pendeta Patni Yogi Sinungsung tetap tinggal di Desa Gading Wani beserta dua orang Putra lainnya.
Tujuan utama perjalanan Mpu Roma Sinungsung adalah ke Puri Gelgel untuk menemui Danghyang Dwijendra. Namun sesampainya beliau dipuri gelgel diberitakan bahwa Danghyang Dwijendra telah lama meninggalkan Puri untuk menuju ke Lempuyang kemudian Mpu Romo Sinungsung beserta pengikutnya melanjutkan lagi perjalanannya untuk menyusul Danghyang ke Lempuyang. Didalam perjalanan menuju Lempuyang ada yang menceritakan bahwa Danghyang Dwijendra sempat tinggal hanya selama 15 (Lima belas) hari di Lempuyang dan telah lama pergi menuju ke Woluwatu. Oleh karenanya bergegaslah Mpu Romo Sinungsung melanjutkan perjalanan menuju ke Woluwatu. Ketika sampai di Desa Sanur perjalanan Mpu Romo Sinungsung tidak dapat dilanjutkan karena beberapa dari pengiring beliau diserang penyakit dan ketika itu di Sanur juga sedang berjangkitnya penyakit Gering.
Pendeta Patni Yogi Sinungsung yang masih tinggal di Desa Gading Wani merasa amat sedih karena ditinggal terlalu lama oleh Mpu Romo Sinungsung serta tidak mengetahui kalau Pendeta Romo Sinungsung sedang berada dimana. Kesedihan yang amat tercekam ini memaksa Pendeta Patni Yogi Sinungsung untuk menyusul dan mencari Mpu Romo Sinungsung ke Puri Gelgel. Perjalanan beliau diiringi oleh beberapa pengikut dari keluarga I Kayu Mas.
Dalam beberapa hari perjalanan akhirnya tiba di Desa Banyumala (Singaraja). Ki Gusti panji Sakti penguasa Wilayah Bali Utara mendengar bahwa Pendeta Patni Yogi Sinungsung dari Desa Gading Wani sedang berada di Desa Banyumala. Segeralah Ida Pendeta di jemput ke Desa Banyumala dan beliau berkesempatan tinggal beberapa hari di Puri Den Bukit. Ki Gusti Panji Sakti memohon kepada Pendeta agar berkenan tinggal di Den Bukit, karena di ketahui bahwa daerah Bali Tengah sedang diserang wabah penyakit. Tetapi niat beliau untuk pergi ke Puri Gelgel tidak bias dihalangi. Berangkatlah Pendeta Patni Yogi Sinungsung dari Puri Den Bukit dengan diiringi oleh beberapa orang utusan dari Puri untuk bersama-sama menuju Puri Gelgel.
Dalam beberapa hari perjalanan akhirnya tiba di suatu Desa Yaitu Desa Tegal wanasari. Sampainya di Desa ini perjalanan tidak dapat dilanjutkan, karena dengan tiba – tiba sang Pendeta Patni Yogi Sinungsung diserang penyakit lumpuh. Semua pengiring menjadi resah atas bencana yang menimpa. Ketika itu pula datang 2 (dua) orang perempuan dari Desa tersebut dan segera memberi pertolongan. Mereka amat kasihan melihat sang pendeta yang tertimpa malapetaka. Setelah mengetahui asal-usul sang pendeta mengapa sampai di Desanya, maka kedua perempuan itu minta kepada pengikut beliau agar Ida Pendeta di usung ke rumahnya. Kedua perempuan itu berasal dari warga Bujangga Wala (Keturunan Sengguhu). Diusunglah Sang Pendeta ke rumah Ni Sengguhu dengan diiringi oleh semua pengikut beliau. Kedua Putra beliau yang menyertai perjalanan tersebut dilayani dengan setia oleh Ni Sengguhu.
Keesokan harinya, pengiring beliau yang berasal dari Den Bukit meninggalkan Desa Tegal Wanasari untuk menyusul perjalanan Mpu Romo Sinungsung ke Puri Gelgel. Setelah beberapa hari di kerajaan Gelgel diketahui bahwa Mpu Romo telah kembali ke Desa Gading Wani untuk Ke Woluwatu. Utusan itu pun segera mohon diri untuk membelakangi perjalanan Mpu Romo Sinungsung. dalam beberapa hari perjalanan akhirnya tiba di Desa Sanur dan diketahui bahwa Mpu Romo Sinungsung sedang ditimpa bencana dan beristirahat di Desa Intaran di rumahnya Ki Bendesa Mas. Setelah berjumpa, utusan itu pun menceritakan malapetaka yang menimpa Istri beliau di Desa Tegal Wanasari. Mpu Romo Sinungsung dan kedua Putranya serta beberapa orang pengiring meninggalkan Desa Intaran menuju Desa Tegal Wanasari.
Sebelum Mpu Romo Sinungsung tiba di Desa Tegal Wanasari Pendeta Patni Yogi Sinungsung telah wafat di Desa tersebut di rumah Ni Sengguhu. Warga Desa Tegal Wanasari berdatangan untuk mempersiapkan pelaksanaan upacara. Kedua Putra beliau amat sedih dan menangis tanpa henti-hentinya. Dalam situasi yang amat prihatin itu tiba-tiba datang Mpu Romo Sinungsung bersama Putra beliau dan beberapa orang pengikutnya. Situasi bertambah sedih dan mencekam karena bencana telah bertubi-tubi menimpa keluarga beliau.
Akhirnya diputuskan untuk menyelenggarakan upacara penyucian jasad Pendeta Patni Yogi Sinungsung dengan segala upacara kebesarannya, dalam hubungannya dengan pelaksanaan, upacara tersebut, Mpu Romo Sinungsung membangun Gandha Mayu, membangun Pura Dalem, Membangun Kuta Wesma dan membangun Tunon yang semuanya berlokasi di Desa Tegal Wanasari tersebut.
Segala tata upacara telah selesai, kemudian Desa Tegal Wanasari diberi nama Desa Wanasari Kumenuh, karena Ida Kumenuh membangun Pura Dalem di Desa tersebut. Serta Bhatari Adi Swari Sinungsung dibuatkan Stana kemuliaan berwujud sebuah Meru bersusun Tiga (Meru Tumpang Tiga) yang berkedudukan di pura Dalem Desa tersebut. Demikian segala rangkaian upacara telah selesai, datanglah utusan Gusti Panji Sakti ke Desa Wanasari Kumenuh untuk menjemput Mpu Romo Sinungsung dan seluruh Putranya untuk datang Ke Puri Den Bukit. Salah seorang Putra beliau (yang ketiga) menolak dan tidak mau meninggalkan Desa wanasari Kumenuh dan ingin tinggal dan menetap di Desa tersebut, karena amat bakti kepada Ibunya yang telah berada di Alam Dewata. Putranya itu bernama Ida Nyoman Kumenuh, tinggal dan menetap di Desa Wanasari Kumenuh hingga lama kelamaan menurunkan keluarga Brahmana Wangsa golongan Kumenuh. Sedangkan Mpu Romo Sinungsung dan ketiga Putra lainnya tinggal dan menetap di Desa Den Bukit di Griya Sukasada di sebelah timur Puri Denbukit.
Demikianlah kisah yang melatar belakangi keberadaan Desa Wanasari Kumenuh, perjalanan panjang dan perkembangan dari Desa tersebut telah membawa perkembangan dan perubahan baik terhadap warganya maupun terhadap Desanya sendiri hingga lama – kelamaan Desa ini secara latah disebut dengan nama Desa Kemenuh.